(Dokumentasi Pribadi)
Selong, Lombok Timur – Dalam upaya memperkuat kerja sama internasional dan meningkatkan kualitas pendidikan berbasis nilai, dosen Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) UIN Mataram mengikuti Pelatihan Kurikulum Berbasis CINTA (KBC) yang diselenggarakan oleh INOVASI NTB pada 3–5 Juni 2026 di Selong, Lombok Timur. Kegiatan tersebut diikuti oleh akademisi dan praktisi pendidikan dari berbagai perguruan tinggi di Nusa Tenggara Barat sebagai bagian dari penguatan ekosistem pendidikan yang humanis dan berkelanjutan.
Program INOVASI merupakan kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Australia yang berfokus pada peningkatan mutu pendidikan. Melalui Pelatihan Kurikulum Berbasis CINTA, peserta memperoleh penguatan enam nilai utama, yakni nilai intelektual, spiritual, personal, sosial, ekologis, dan kebangsaan. Keenam nilai tersebut diharapkan mampu membentuk peserta didik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat.
(Dokumentasi Pribadi)
Dalam salah satu sesi pelatihan, narasumber menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan karakter sangat ditentukan oleh keteladanan pendidik. Menurutnya, perubahan akhlak mulia harus dimulai dari diri dosen dan guru sebelum ditanamkan kepada mahasiswa maupun peserta didik. "Perubahan akhlak mulia dimulai dari dosen atau pendidik. Ketika pendidik mampu memberikan contoh yang baik, mahasiswa dan peserta didik akan terdorong untuk mengubah dirinya sendiri. Pendidikan bukan hanya proses transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga transfer nilai dan keteladanan," ungkap narasumber pada sesi penguatan nilai Kurikulum Berbasis CINTA.
Sekretaris Program Studi PGMI UIN Mataram, Dr. Lalu Asriadi, M.Pd., yang turut mengikuti kegiatan tersebut, menyampaikan bahwa pelatihan ini memiliki relevansi yang kuat dengan visi PGMI UIN Mataram sebagai lembaga pencetak calon guru yang profesional dan berkarakter. "Sebagai program studi pencetak calon pendidik, PGMI memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan guru yang tidak hanya kompeten dalam aspek akademik, tetapi juga mampu mendidik dengan cinta dan menjadi teladan bagi peserta didiknya. Nilai-nilai yang diperoleh dalam pelatihan ini akan kami transformasikan kepada mahasiswa melalui proses perkuliahan," ujarnya.
Menurutnya, tantangan pendidikan saat ini tidak hanya berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga bagaimana menghadirkan pembelajaran yang mampu membentuk karakter, menumbuhkan empati, serta memperkuat kepedulian sosial dan lingkungan. Selama tiga hari pelatihan, peserta mengikuti berbagai sesi penguatan konsep, refleksi, diskusi kelompok, serta praktik implementasi Kurikulum Berbasis CINTA dalam pembelajaran. Kegiatan ini juga menjadi ruang kolaborasi antarlembaga pendidikan tinggi dalam memperkuat jejaring akademik dan memperluas praktik baik pendidikan yang sejalan dengan perkembangan global.
Melalui keikutsertaan dalam kegiatan tersebut, PGMI UIN Mataram berharap dapat memperkuat kualitas pendidikan calon guru sekaligus mendukung pengembangan kerja sama internasional dalam bidang pendidikan melalui implementasi nilai-nilai Kurikulum Berbasis CINTA. Langkah ini diharapkan mampu melahirkan pendidik yang profesional, berintegritas, serta mampu menghadirkan pendidikan yang berlandaskan kasih sayang, keteladanan, dan nilai-nilai kemanusiaan di sekolah maupun madrasah.